Menembus Batas dari Balik Kemudi Angkot: Kisah Epik Matheos Berhitu Menaklukkan Panggung Maraton Dunia
PROFIL TOKOH INSPIRATIF OLAHRAGA
Dari aspal Ambon saat menarik setir angkutan kota hingga lintasan ekstrem ribuan kilometer di kancah internasional dan panggung Asia, Matheos Berhitu membuktikan bahwa modal terbesar seorang juara bukanlah fasilitas megah, melainkan nyali baja, keteguhan hati, dan langkah kaki yang menolak menyerah.
―――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――
DETIKAMBON - Di bawah terik matahari Kota Ambon yang memanggang aspal pesisir, deru mesin angkutan kota (angkot) menjadi irama hidup harian Matheos Berhitu selama bertahun-tahun. Lahir pada 4 Desember 1972 di Bumi Maluku, pria bersahaja dengan sorot mata tajam ini mengawali hari-harinya bukan di atas trek lari berstandar internasional beralas sintetis, melainkan di balik lingkar kemudi rute Laha – Mardika.
Bagi masyarakat Ambon, Theo—sapaan akrabnya—hanyalah seorang sopir yang ramah, gesit menembus kemacetan, dan sigap mengantar penumpang demi mengumpulkan rupiah untuk menyambung hidup keluarganya. Namun, di balik seragam kasual dan keringat yang membasahi kaosnya, bersemayam sebuah mesin biologis luar biasa, paru-paru baja dan sepasang kaki yang sanggup menempuh jarak tanpa kenal kata lelah.
Kecintaannya pada olahraga lari sejatinya telah tumbuh sejak usia 15 tahun. Kala itu, Theo muda mengasah bakat alamiahnya sebagai pelari cepat (sprinter) nomor 100 meter hingga 400 meter. Keterbatasan sarana, minimnya bimbingan pelatih profesional, serta tuntutan ekonomi rumah tangga sempat memaksanya menepikan impian podium. Ia harus bekerja keras mengemudikan angkot milik majikan, bekerja dari fajar menyingsing hingga siang menjelang sore. "Kalau mobil lagi sepi penumpang di Bandara Pattimura, beta parkir mobil lalu mulai lari keliling Ambon sampai basah kuyup. Nanti kembali ke titik awal pas mau setor mobil. Capek narik mobil hilang kalau sudah lari."Ungkap Matheos Berhitu
Alih-alih menjadikan kelelahan fisik sebagai alasan berhenti, Theo menyulap rute operasionalnya menjadi laboratorium latihan mandiri. Selepas pukul 13.00 WIT, saat target setoran terpenuhi atau ketika bandara tengah lengang, ia segera mengikat tali sepatunya. Tanpa fasilitas treadmill berpendingin ruangan, tanpa ahli nutrisi khusus, Theo melahap tanjakan curam Leitimur dan jalanan berbatu Pulau Ambon di bawah terpaan angin laut dan malam yang sunyi.
Peralihan hidup Matheos terjadi ketika ia menyadari bahwa kekuatan utamanya bukan lagi pada ledakan akselerasi jarak pendek, melainkan pada daya tahan tubuh (endurance) dan ketahanan mental luar biasa di atas jarak yang jauh melampaui batas manusia biasa. Ketika ajang lari maraton standar (42,195 km) dirasa sudah menjadi hal lumrah, Theo melompat ke arena lari ultra (ultra-marathon)—sebuah gelanggang ekstrem yang menuntut pelari menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer.
Tahun 2014 menjadi pembuktian pertamanya di kancah nasional saat ia menjuarai kejuaraan ultra marathon 69 kilometer di Sulawesi Tenggara. Tiga tahun berselang, pada 2017, ia kembali mengguncang panggung lari nasional dengan menjuarai nomor 100 kilometer di Jakarta. Publik olahraga atletik nasional mulai terhenyak menatap sosok pria asal Ambon yang berlari dengan gaya natural namun tak pernah kehabisan tenaga.
Puncak tantangan ekstrem di tanah air dihadapinya pada ajang Tambora Challenge 320K di Nusa Tenggara Barat (2018). Menempuh jarak sejauh 320 kilometer melintasi Pulau Sumbawa di bawah terik khatulistiwa dan terpaan debu vulkanik, Matheos menembus garis finis dengan catatan waktu menakjubkan. Perjalanan menuju Sumbawa pun dilaluinya dengan penuh keprihatinan finansial, bermodal nekat, membeli sepasang sepatu sederhana seharga Rp200 ribu di Pasar Mardika Ambon, dan menanggung biaya bekal secara swadaya.
Reputasi Matheos Berhitu sebagai pelari berdaya tahan luar biasa membawanya melangkah ke sirkuit internasional. Namanya tercatat dengan tinta emas saat tampil dalam ajang lari lintas semenanjung Malaysia pada Desember 2021. Dalam kejuaraan lintas alam berjarak 2.243 kilometer yang ditempuh selama satu bulan penuh, Theo memecahkan rekor waktu yang telah bertahan selama 19 hari, mengibarkan bendera Merah Putih di hadapan komunitas lari dunia.
Langkahnya tak berhenti di situ. Di berbagai kejuaraan masters dan ultra tingkat Asia, mulai dari sirkuit kejuaraan di Sabah, Malaysia, hingga ajang internasional bergengsi di Bangkok, Thailand—Matheos terus mengoleksi medali dan mengukuhkan namanya di jajaran atlet ketahanan terbaik Asia Tenggara.
Julukan 'Manusia Super Indonesia' yang disematkan oleh pengamat olahraga dan pemerintah daerah bukanlah hiperbola semata. Di usia yang telah melewati setengah abad (53 tahun pada 2026), Matheos Berhitu masih memiliki denyut nadi istirahat yang sangat efisien dan VO2 max yang mengagumkan bagi atlet sebayanya. Rahasianya terletak pada etos disiplin yang murni lahir dari panggilan jiwa.
Berbeda dengan atlet modern yang dikelilingi tim pelatih, fisioterapis, dan pemantau biometrik canggih, Matheos membangun staminanya lewat 'latihan sunyi'. Ia mendengarkan sinyal tubuhnya sendiri secara intuitif. Baginya, lari bukan sekadar perlombaan mengejar medali atau hadiah finansial, melainkan sebentuk doa bergerak, sarana mengucap syukur atas anugerah raga dan kesempatan mengharumkan nama bangsa.
Di tengah minimnya sorotan media mainstream yang kerap kali lebih memuja popularitas sesaat, Matheos tidak pernah merasa berkecil hati ataupun menyimpan kepahitan. Ketika ditanya mengenai apresiasi negara, ia menjawab dengan senyum teduh yang mencerminkan kedewasaan seorang pejuang sejati
Pengakuan atas dedikasi tanpa pamrih Matheos mencapai tonggak bersejarah ketika Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menunjuknya sebagai Ikon Atlet Pria pada gelaran Maraton Internasional Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 2024. Penunjukan tersebut adalah simbol penghormatan tertinggi negara bahwa semangat pembangunan masa depan Indonesia harus dilandasi oleh kegigihan, ketahanan mental, dan kerja keras seperti yang ditunjukkan oleh seorang mantan sopir angkot Ambon.
Kini, memasuki tahun 2026, dukungan dari Pemerintah Provinsi Maluku dan berbagai elemen komunitas olahraga kian mengalir untuk menopang agenda perlombaan internasionalnya, termasuk persiapan kejuaraan ketahanan 24 jam nonstop di tingkat Asia dan dunia. Gubernur Maluku secara langsung menyatakan komitmen untuk terus mengawal perjuangan sang legenda hidup.
Perjalanan Matheos Berhitu membawa pesan universal yang melintasi sekat profesi dan generasi. Bagi kaum muda, pekerja informal, maupun atlet pemula, kisah hidupnya adalah cermin nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah vonis mati bagi impian besar. Dari lorong-lorong sempit Kota Ambon, membelah teriknya aspal nusantara, hingga menatap cakrawala Bangkok dan kota-kota megapolitan dunia, Matheos telah membuktikan manusia yang memiliki ketetapan hati akan selalu menemukan jalan untuk sampai ke garis finis kejayaan.(**)