Syahdunya Senja Bupolo: Saat Seragam Cokelat Meresapi Akhlak Rasulullah
Detikambon Eksklusif | Feature
Di tengah hiruk-pikuk tugas menjaga keamanan negeri, ada sejenak waktu ketika seragam kebesaran menunduk khusyuk. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Polres Buru bukan sekadar ritual, melainkan oase spiritual yang meredefinisi makna pengabdian.
NAMLEA, detikambon — Angin sore yang berhembus dari arah Teluk Kayeli membawa kesejukan tersendiri bagi kota Namlea pada Rabu (26/8/2026). Tepat ketika matahari mulai merendah di ufuk barat, memancarkan rona keemasan yang menghangatkan bumi Bupolo, suasana di Markas Komando Polres Buru terasa berbeda. Ketegangan khas markas kepolisian seolah memudar, digantikan oleh ketenangan yang menyejukkan batin.
Berpusat di Masjid Ar-Riaayah yang terletak di dalam kompleks Polres, jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIT. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an mengalun merdu, memecah kesunyian senja, dan meresap ke dalam sanubari. Di dalam masjid, ratusan personel kepolisian duduk bersila merapatkan saf. Atribut pangkat dan jabatan sejenak dilepaskan dalam kebersamaan, menyatu dalam kekhusyukan memperingati hari kelahiran sosok pembawa cahaya peradaban, Nabi Muhammad SAW.
Tahun ini, gaung Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H / 2026 M di tubuh Polres Buru membawa narasi yang teramat relevan dengan tantangan zaman. Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Melalui Polri Presisi Kita Wujudkan Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” acara ini menjelma menjadi sebuah refleksi mendalam. Bukan hanya sekadar perayaan seremonial, namun sebuah ikhtiar batin untuk menyelaraskan ketegasan hukum dengan kelembutan kasih sayang.
Hadir di tengah-tengah kebersamaan itu adalah Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang, S.H., S.I.K., M.M., sosok pemimpin yang dikenal tegas namun keibuan. Kehadirannya didampingi oleh Wakapolres Buru Kompol Jufri Jawa, deretan Pejabat Utama (Pju), para Perwira, hingga Kapolsek jajaran. Kehangatan semakin terasa dengan hadirnya para Purnawirawan dan Warakawuri, para sesepuh yang pernah menghabiskan masa mudanya untuk mengabdi pada institusi ini.
Seiring dengan usainya gema tilawah, suasana hening menyelimuti ruang utama Masjid Ar-Riaayah. Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang, melangkah perlahan ke depan. Dalam sambutannya, tutur katanya mengalir tenang namun sarat akan penekanan moral. Di hadapan ratusan pasang mata anggotanya, ia mengingatkan kembali akan esensi dari seragam yang mereka kenakan setiap hari. “Peringatan Maulid Nabi ini hendaknya tidak kita maknai sebatas agenda rutin tahunan yang menggugurkan kewajiban seremonial belaka,” ujar AKBP Sulastri, suaranya menggema lembut di sela-sela pilar masjid. “Jadikanlah sore ini sebagai momentum titik balik. Sebuah kesempatan untuk me-recharge keimanan dan ketakwaan kita, sekaligus membumikan akhlak mulia Rasulullah SAW dalam setiap langkah tugas kita di lapangan.”
Bagi AKBP Sulastri, sejarah hidup Nabi Muhammad SAW adalah pedoman paripurna yang tak lekang oleh waktu. Nilai-nilai seperti kejujuran (siddiq), kesabaran yang tak bertepi, kedisiplinan, keadilan tanpa pandang bulu, kasih sayang kepada kaum lemah, dan tanggung jawab yang besar, adalah fondasi yang sangat dibutuhkan oleh Polri masa kini.
Dalam balutan bahasa yang elegan, Kapolres menggarisbawahi bahwa konsep 'Polri Presisi' sejatinya memiliki irisan yang sangat kuat dengan sifat-kenabian. “Sebagai anggota Polri, tugas kita bersentuhan langsung dengan denyut nadi masyarakat. Berikanlah pelayanan terbaik. Kedepankan sikap profesional, humanis, transparan, dan berkeadilan. Itulah wujud nyata kita meneladani Sang Rasul,” tuturnya penuh harap.
Lebih dalam lagi, ia menitipkan sebuah renungan tajam bagi jajarannya. Kewenangan yang diberikan oleh negara dan undang-undang kepada setiap anggota polisi bukanlah sebuah privilese untuk bertindak arogan, melainkan sebuah amanah suci. Sebuah titipan untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat Bumi Bupolo dengan sepenuh hati.
Cahaya senja perlahan berganti dengan teduhnya malam ketika acara memasuki sesi tausiyah. Ustaz Andi Muh. Ali, S.Ag., M.Ag., seorang pendidik dan tokoh agama yang karismatik, mengambil tempat. Gaya bicaranya yang naratif dan memikat seakan membawa para jamaah yang hadir melintasi lorong waktu, kembali ke padang pasir jazirah Arab berabad-abad silam.
Dalam uraiannya, Ustaz Andi menyoroti seni kepemimpinan dan manajerial dari sosok Nabi Muhammad SAW yang sangat bisa diaplikasikan dalam tugas kepolisian modern. “Nabi kita tidak memimpin dengan pedang, melainkan dengan akhlak. Beliau merangkul yang tersisih, memaafkan yang membenci, dan melayani umatnya melebihi dirinya sendiri,” papar sang Ustaz.
Ustaz Andi menjabarkan bagaimana Rasulullah membangun kerja sama tim yang solid di antara para sahabatnya. Sebuah kerja sama yang dilandasi oleh rasa saling percaya (trust) dan ketulusan, bukan sekadar relasi hierarkis antara atasan dan bawahan. Pesan ini meluncur begitu pas di tengah kultur kepolisian yang sangat mengandalkan kekompakan kesatuan. “Ketika bapak dan ibu polisi turun ke jalan, melerai pertikaian, menjaga keamanan malam hari di saat warga terlelap, atau melayani administrasi warga dengan senyuman tulus tanpa pamrih, ketahuilah bahwa saat itu bapak ibu sedang beribadah. Itulah implementasi nyata dari kasih sayang (rahmatan lil 'alamin) yang diajarkan oleh Rasulullah,” tambahnya.
Tausiyah sore itu tidak hanya memberikan siraman rohani, tetapi juga me-rekonstruksi sudut pandang para personel. Bahwa setiap lelah yang menetes saat bertugas menjaga kamtibmas di wilayah hukum Polres Buru, jika diniatkan dengan lurus, akan dicatat sebagai amal kebaikan yang tak terputus.
Sebuah ajaran moral tidak akan sempurna tanpa manifestasi dalam bentuk perbuatan. Membuktikan bahwa nilai-nilai kebaikan yang disampaikan bukan sekadar retorika mimbar, rangkaian peringatan Maulid ini juga diwarnai dengan aksi empati yang menyentuh relung hati.
Sebagai bentuk kepedulian yang mendalam, Kapolres Buru AKBP Sulastri Sukidjang secara khusus menyerahkan tali asih dan bantuan kepada para Warakawuri. Momen penyerahan bantuan ini berlangsung haru. Senyum bahagia bercampur air mata haru dari para istri almarhum purnawirawan polisi ini menjadi bukti nyata bahwa institusi Polri tidak pernah melupakan keluarga besarnya, meski terpisah oleh waktu dan takdir.
Berbagi kebahagiaan di momentum suci ini menyempurnakan makna perayaan Maulid itu sendiri. Setelahnya, seluruh rangkaian acara ditutup dengan munajat dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Andi, memohon keberkahan, keselamatan, serta perlindungan bagi seluruh personel Polres Buru dalam mengemban tugas negara yang kian dinamis.
Senyum sumringah tergambar jelas di wajah para personel saat acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan sesi foto bersama. Ada kehangatan kekeluargaan yang kental terasa di sana, menyatukan pimpinan, bawahan, tokoh agama, hingga para sesepuh dalam satu ikatan silaturahmi yang erat.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H ini, Polres Buru telah menanamkan sebuah komitmen moral yang kuat. Menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai fondasi dalam pelaksanaan tugas bukanlah tugas yang mudah, namun merupakan sebuah keniscayaan. Dengan semangat Polri Presisi yang terus dipupuk, Polres Buru melangkah maju untuk menghadirkan postur kepolisian yang tak hanya profesional dan berkeadilan, tetapi juga memiliki wajah yang humanis dan penuh empati, demi merebut serta menjaga takhta kepercayaan di hati masyarakat.(**)