Bertaruh Nasib di Aspal Mardika: Dilema Pedagang Kecil dan Megahnya Gedung Baru
DETIK AMBON,COM – Suara bising tawar-menawar yang berpadu dengan deru mesin kendaraan menjadi simfoni harian yang tak terpisahkan dari Pasar Mardika, Kota Ambon. Sejak matahari belum menampakkan sinarnya secara penuh, aktivitas transaksi di pasar ini sudah terpantau menggeliat hebat.
Sebagai urat nadi perekonomian warga, Pasar Mardika tak pernah kehilangan pesonanya. Tempat ini merupakan episentrum perbelanjaan tradisional yang setiap harinya rutin menyuplai berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Dari rempah-rempah segar, sayur mayur, hingga kebutuhan dapur lainnya, semua tersedia di sini.
Banyaknya konsumen yang memadati area pasar menjadi potret nyata tingginya daya beli dan perputaran uang. Kondisi ini sekaligus menjadi gambaran nyata akan dinamika dan geliat pertumbuhan ekonomi masyarakat Ambon yang terus hidup dan bergerak, berpusat di satu titik keramaian bernama Mardika.
Pasar Mardika kini memang telah bersolek. Gedung baru dengan konsep pasar tradisional bernuansa modern telah berdiri megah. Namun, ironisnya, kemegahan tersebut belum mampu menampung seluruh denyut kehidupan di dalamnya.
Realitas di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontras. Di sepanjang trotoar dan badan jalan, aktivitas berdagang masih marak dilakukan. Area yang sejatinya dilarang untuk berjualan itu kini menjelma menjadi lapak-lapak dadakan yang dipenuhi sayur dan kebutuhan pokok.
Wa Nia, salah seorang pedagang kebutuhan pokok, adalah satu dari sekian banyak wajah yang mencoba bertahan hidup di kerasnya aspal Mardika. Kepada detikambon.com, ia membagikan kisah klasiknya. Wa Nia mengaku terpaksa menggelar dagangannya di bahu jalan lantaran tidak tersedianya ruang atau lapak kosong di dalam gedung baru Pasar Mardika. Selain itu, kecenderungan pembeli yang lebih senang berbelanja di luar gedung karena dinilai lebih praktis, menjadi alasan kuat mengapa trotoar tak pernah sepi dari aktivitas jual beli.
Memilih trotoar sebagai tempat mengais rezeki bukanlah tanpa risiko. Para pedagang di luar area pasar ini harus selalu waspada. Sirine dan peluit petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang kerap menggelar patroli penertiban menjadi "hantu" keseharian mereka.
Wa Nia sendiri tidak menampik hal tersebut. Ia mengaku sudah sering kali terjaring penertiban karena melanggar aturan tata kota dengan berjualan di areal terlarang. Namun, tuntutan perut dan harapan menyambung hidup keluarga membuatnya tak punya banyak pilihan.
Menggeliatnya aktivitas transaksi di luar gedung, ditambah dengan tingginya minat pembeli yang enggan masuk ke dalam area pasar modern, menciptakan sebuah dilema. Faktor-faktor inilah yang terus mendorong para pedagang kecil seperti Wa Nia untuk tetap bertahan di bahu jalan. Meskipun hal itu berarti mereka harus terus mempertaruhkan dagangannya dan terlibat aksi "kucing-kucingan" yang melelahkan dengan para petugas setiap harinya.(**)