Kasus Narkoba Di Ambon Turun Drastis Di 2026, Tapi Kok Polisi Makin Waspada? Ini Alasannya!
DetikAmbon.com - Kabar baik sekaligus alarm peringatan datang dari Kota Ambon! Berdasarkan data terbaru di tahun 2026, angka kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kota berjuluk Ambon Manise ini mencatatkan penurunan secara kuantitas.
Meski angkanya menurun, aparat kepolisian justru meminta masyarakat untuk tidak bernapas lega dulu. Pasalnya, ada bahaya tersembunyi di balik penurunan angka tersebut. Seperti apa faktanya?
Angka Turun, 23 Tersangka Diamankan Sepanjang tahun 2026 ini, Polresta Pulau Ambon mencatat hanya ada 15 kasus narkoba yang ditangani. Dari belasan kasus tersebut, mayoritas masih didominasi oleh peredaran narkotika jenis sabu.
Rinciannya, terdapat 11 kasus sabu-sabu dan 4 kasus ganja. Dari pengungkapan 15 kasus ini, polisi berhasil menciduk 23 orang tersangka yang kini harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di balik jeruji besi. Beberapa di antaranya bahkan tertangkap tangan dalam operasi penggerebekan dan tes urine langsung di tempat, seperti yang terlihat dalam giat operasi kepolisian baru-baru ini.
Lantas, apa yang membuat pihak kepolisian tetap waspada meski jumlah kasusnya sedikit? Penurunan jumlah kasus di atas kertas ternyata belum sepenuhnya mencerminkan bahwa ancaman narkotika di Kota Ambon ikut melemah. Hal ini ditekankan langsung oleh Kapolresta Ambon, Kombes Pol Andrias Santoso Nugroho. Kapolresta Ambon membongkar fakta mengejutkan. "Secara jumlah (kuantitas) kasus memang mengalami penurunan, namun kualitas ancamannya justru semakin meningkat," tegasnya.
Hingga saat ini, dari 15 kasus yang dibongkar, tujuh kasus di antaranya telah rampung alias masuk ke Tahap 2 (penyerahan tersangka dan barang bukti ke kejaksaan). Sementara itu, total barang bukti mematikan yang berhasil disita dari tangan para tersangka cukup signifikan, yakni Sabu seberat 94,03 gram dan Ganja seberat 4,80 gram.
Menurut aparat penegak hukum, jaringan peredaran narkoba saat ini semakin kompleks dan pintar menyembunyikan jejak. Modus operandi yang digunakan para bandar dan pengedar semakin beragam, membuat penyebaran barang haram ini berpotensi menimbulkan dampak yang jauh lebih merusak bagi masyarakat Ambon.
Kondisi inilah yang membuat keberhasilan pemberantasan narkoba tidak bisa lagi hanya diukur dari seberapa banyak kasus yang diungkap, melainkan seberapa dalam aparat bisa memutus rantai jaringannya.
Melihat pergerakan sindikat narkoba yang makin "berkualitas" dalam merusak generasi bangsa, kepolisian terus memperkuat pengawasan dan penindakan. Aparat tidak henti-hentinya menggelar razia di berbagai titik rawan, termasuk penggerebekan di tempat hiburan dan indekos yang sering dijadikan sarang peredaran. Namun, Kapolresta Ambon menyadari bahwa polisi tidak bisa bekerja sendirian. Menghadapi modus yang makin licin, keterlibatan masyarakat menjadi senjata paling ampuh.
Aparat kini secara masif mendorong masyarakat untuk ikut andil dalam mencegah peredaran narkoba masuk ke lingkungan mereka. Lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas pemuda dinilai memiliki peran paling vital sebagai garda terdepan. Mendeteksi perubahan perilaku anak atau anggota keluarga sejak dini dinilai jauh lebih efektif untuk mencegah penyalahgunaan narkotika sebelum semuanya terlambat.( **)