Minggu, 19 Juli 2026
Detik Ambon Logo
DETIK AMBON AKTUAL TERPERCAYA DAN TERKINI
TRENDING
Kota Ambon

Menolak Terpaku pada Nasi: Sukun Maluku Dipanggil Menjawab tantangan Zaman

d
detik ambon Jurnalis Detik Ambon
Saturday, 1 August 2026 | 90 views
Bagikan:
 Menolak Terpaku pada Nasi:  Sukun Maluku Dipanggil Menjawab tantangan Zaman


DETIKAMBON.COM— Angin sepoi di bukit paralayang  ambon menjadi saksi sebuah gerakan ekologi yang tidak biasa  di tengah kepungan isu ketahanan pangan nasional dan ketergantungan masyarakat terhadap beras, ratusan prajurit TNI bersama jajaran Forkopimda Provinsi Maluku dan  Kota Ambon berkumpul. Tangan-tangan mereka belepotan tanah, menanam bibit-bibit muda tanaman sukun komoditas lokal yang selama ini sering terlupakan.
Ini bukan sekadar seremonial penanaman pohon biasa

Hari itu, Kodam XV/Pattimura secara serentak meluncurkan  Launching Penanaman Sejuta Pohon Sukun, sebuah ikhtiar hijau untuk membentengi wilayah Maluku dari ancaman krisis pangan masa depan.

Dari kejauhan layar  virtual conference  (vicon) menghubungkan Bukit Paralayang dengan Weda, Halmahera Tengah. Di sanalah Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han., menyampaikan pesannya secara langsung. "Saya mengajak generasi muda untuk menanam sukun sebagai komoditi unggulan asal Maluku. Sukun memiliki potensi besar sebagai bahan pangan alternatif pengganti nasi atau beras," tegas Mayjen Dody 

Arahannya jelas, sukun bukan lagi sekadar hidangan sampingan di meja makan, melainkan benteng pertahanan pangan utama.
Mengapa sukun? Secara historis dan ekologis, Maluku adalah rumah bagi tanah yang amat ramah bagi tanaman bernama latin  Artocarpus altilis ini. Kaya karbohidrat, tahan terhadap cuaca ekstrem, dan mampu berproduksi hingga puluhan tahun, sukun adalah jawaban atas isu krisis iklim yang kian mengancam sektor pertanian konvensional.
Melalui program unggulan bertajuk "Emas Hijau",

 Kodam XV/Pattimura mencoba menghidupkan kembali tradisi pangan lokal yang sempat tergeser oleh budaya serba-beras. Langkah konkret langsung diambil seluruh jajaran, khususnya Batalyon Pertanian (Yon TP) yang memiliki lahan produktif, diinstruksikan untuk mengoptimalkan penanaman sukun secara masif demi mendukung target swasembada pangan dalam lima tahun ke depan. Namun, Mayjen Dody Triwinarto tidak berhenti pada tahap tanam dan panen. Visi yang diusungnya melompat lebih jauh menuju  isu ekonomi berkelanjutan dan nilai tambah (hilirisasi) "Dalam jangka waktu 4 hingga 5 tahun mendatang, komoditas sukun dari Maluku kita harapkan dapat masuk ke tahap hilirisasi dan menjadi produk bernilai tambah yang menarik minat para investor,"* papar Pangdam.
 
Jika diolah menjadi tepung sukun, olahan kemasan, hingga produk turunan bernilai tinggi, sukun Maluku tidak hanya mengenyangkan perut warga local, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi daerah. Di balik jargon dan instruksi teknis militer, gerakan penanaman sejuta pohon sukun ini berakar pada sebuah falsafah mendalam. Di tengah pidatonya, Mayjen Dody menyitir kembali pesan legendaris dari almarhum Letjen TNI (Purn) Doni Monardo mantan Pangdam XV/Pattimura yang dikenal sangat mencintai kelestarian lingkungan Maluku. Pesan itu adalah tentang Filosofi Tiga Emas Maluku."Apabila emas hijau kita tanam, emas biru kita kelola dan manfaatkan dengan baik, maka dapat menghasilkan emas putih, yaitu kedamaian dan kesejahteraan,"tutur Pangdam mengutip pesan tersebut.
 
Bagi masyarakat Kepulauan Maluku, isu perdamaian dan kesejahteraan sosial (Emas Putih) tidak bisa dipisahkan dari bagaimana cara mereka mengelola isi daratan (Emas Hijau) dan lautan (Emas Biru). Ketika perut rakyat kenyang oleh pangan lokal yang melimpah dan lingkungan terjaga, potensi konflik dapat diredam dengan sendirinya.
Suara vicon dari Halmahera Tengah berakhir. Di Bukit Paralayang Ambon, Kapoksahli Pangdam XV/Pattimura, Brigjen TNI Julius Jolly Suawa, S.Sos., memimpin langsung aksi nyata. Bersama para pejabat daerah dan pimpinan instansi, puluhan bibit pohon sukun dihujamkan ke dalam tanah basah.

Satu per satu bibit sukun tertanam hari itu. Di bawah tanah Ambon, akar-akar muda itu mulai menjalar—membawa harapan akan lahirnya kemandirian pangan, ketahanan ekologi, dan kedamaian yang abadi di bumi Rempah-Rempah.***

Catatan : Redaksi DetikAmbon.Com