Merajut Asa di Bawah Atap Rapuh: Potret Pilu SDN 107 Hulung Maluku Tengah
LIPUTAN KHUSUS : DETIK AMBON.COM- FAISAL BOINAUW
MALUKU TENGAH, DETIKAMBON.COM — Suara tawa dan semangat belajar anak-anak sejatinya adalah detak jantung bagi sebuah sekolah. Namun, bagaimana jika semangat itu harus dibayangi oleh rasa waswas setiap kali mereka menatap ke langit-langit ruang kelas?
Begitulah realitas pahit yang kini menjadi makanan sehari-hari bagi siswa-siswi dan para guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 107 Hulung, yang terletak di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Jika dilihat dari kejauhan, bangunan ini mungkin masih berdiri. Namun, saat kaki melangkah masuk, predikat "jauh dari kata layak" adalah satu-satunya kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi terkini sekolah tersebut. Bukan sekadar masalah estetika bangunan yang memudar dimakan usia, tetapi kerusakan yang ada kini telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan jiwa para tunas bangsa.
Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk merajut cita-cita, kini berubah menjadi ruang penuh kekhawatiran. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan, tragedi yang tak diinginkan bisa saja terjadi sewaktu-waktu.
Kerusakan paling parah dan paling mencolok di SDN 107 Hulung berada tepat di atas kepala para siswa, yakni bagian atap bangunan. Mahkota pelindung gedung itu kini berlubang menganga di berbagai titik. Kondisi ini membuat fungsi atap sebagai pelindung ruang belajar pupus sama sekali.
Bagi para siswa dan guru di sana, pergantian cuaca bukanlah hal yang bisa dinikmati, melainkan alarm kewaspadaan. Ketika awan mendung datang dan hujan turun, air dengan leluasa menerobos masuk melalui lubang-lubang atap. Lantai kelas menjadi basah, buku-buku berisiko hancur, dan konsentrasi belajar seketika buyar karena mereka harus menyingkir dari tetesan air.
Sebaliknya, saat kemarau menyapa dan matahari bersinar terik, penderitaan tidak lantas usai. Celah-celah besar pada atap membiarkan sinar matahari menusuk langsung ke dalam ruangan. Panas yang menyengat membuat keringat bercucuran, menggerus kenyamanan dan fokus siswa yang sedang berusaha menyerap pelajaran. Alam seolah bebas keluar masuk ke dalam ruang kelas mereka tanpa ada penghalang.
Masalah di SDN 107 Hulung tidak berhenti pada atap yang bolong. Ancaman yang lebih sunyi namun mematikan datang dari kerangka bangunan itu sendiri. Rangka penyangga atap yang terbuat dari kayu kini kondisinya mulai rapuh dan lapuk termakan usia serta cuaca.
Penyangga yang seharusnya berdiri kokoh menahan beban atap itu kini tampak ringkih. Ada ketakutan tak terucap di mata para guru saat angin kencang bertiup, khawatir jika kerangka yang rapuh itu tak lagi sanggup menahan beban dan runtuh menimpa anak-anak yang sedang duduk belajar di bawahnya.
Matahari dan hujan yang silih berganti masuk selama bertahun-tahun juga memperparah kondisi bagian bawah bangunan. Lantai ruang kelas tampak pecah dan terkelupas di sana-sini. Pemandangan ini bukan sekadar tidak sedap dipandang, tetapi juga membahayakan langkah kaki kecil para siswa yang sedang bermain atau berlarian di dalam kelas. Setiap sudut bangunan seolah bercerita tentang kelelahan yang tak kunjung mendapatkan pengobatan.
Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, masyarakat setempat dan para orang tua murid terjebak dalam pusaran ketidakberdayaan. Keterbatasan ekonomi dan wewenang membuat mereka tidak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki sekolah tempat anak-anak mereka menimba ilmu.
Setiap hari, para orang tua harus melepas kepergian anak mereka ke sekolah dengan doa yang lebih panjang dengan berharap atap itu tidak runtuh hari ini, berharap anak-anak mereka bisa pulang dengan selamat.
Kini, satu-satunya tumpuan harapan mereka bermuara pada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Maluku Tengah. Melalui Dinas Pendidikan setempat, masyarakat menanti adanya perhatian serius dan langkah nyata yang segera dieksekusi, bukan sekadar janji di atas kertas.
Pendidikan adalah hak dasar setiap anak bangsa, dan hak itu tidak bisa dipenuhi secara maksimal jika ruang belajarnya justru mengancam nyawa. Anak-anak di Hulung, Kecamatan Leihitu, berhak mendapatkan atap yang utuh, lantai yang rata, dan ruang kelas yang aman untuk mengukir masa depan mereka. Keselamatan dan pendidikan mereka tidak pantas untuk ditunda. (FS)