Merajut Asa: Sekolah Rakyat Selamatkan 43 Ribu Generasi Bangsa
Oleh: Tim Redaksi DetikAmbon.Com
DETIKAMBON.COM, Bagi ribuan anak jalanan di kota-kota besar, waktu sering kali hanya diukur dari terik matahari yang menyengat aspal hingga deru mesin kendaraan di malam hari. Pendidikan formal adalah kemewahan yang tak pernah berani mereka impikan. Namun, sebuah terobosan sunyi kini tengah mengubah nasib puluhan ribu anak tersebut. Tidak ada kata "menunggu" dalam kamus penyelamatan generasi muda.
Itulah benang merah yang ditekankan oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, saat meninjau langsung operasional "Sekolah Rakyat" bersama Menteri Sosial, Wakil Menteri Sosial, serta Gubernur Banten baru-baru ini. Didampingi oleh sosok-sosok penggerak seperti Kak Ipul—kakak asuh Sekolah Rakyat se-Indonesia Raya—dan Kak Agus Jabo, kunjungan ini membuka mata publik tentang bagaimana negara berlomba dengan waktu demi mengentas anak-anak dari kerasnya kehidupan jalanan.
Dalam birokrasi tradisional, membangun sebuah fasilitas pendidikan sering kali memakan waktu panjang. Perencanaan, penganggaran, hingga konstruksi bisa menghabiskan waktu lebih dari setahun. Namun, kemiskinan dan ketelantaran tidak bisa diajak kompromi. Menyadari hal tersebut, pemerintah tidak tinggal diam menunggu gedung-gedung baru selesai dibangun. Teddy Indra Wijaya menyoroti sebuah solusi pragmatis namun brilian Adalah Sekolah Rintisan. "Pembangunan butuh waktu mungkin setahun, nah tapi anak sekolah tidak boleh terlambat, harus segera. Makanya ada yang rintisan," tegas Teddy.
Gedung-gedung rintisan ini adalah wujud nyata dari efisiensi aset. Pemerintah mengambil alih gedung-gedung yang belum termanfaatkan secara optimal, merenovasinya dengan cepat, dan langsung menyulapnya menjadi ruang kelas yang layak. Langkah ini memastikan anak-anak jalanan, mereka yang putus sekolah, atau bahkan yang belum pernah mengecap bangku sekolah sama sekali di daerah sekitar, bisa segera belajar tanpa harus menunggu tahun ajaran berikutnya atau rampungnya proyek konstruksi berskala besar. Kecepatan bertindak ini menjadi jawaban atas keresahan Presiden yang tidak menginginkan ada lagi anak-anak usia sekolah yang menghabiskan waktunya di jalanan kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah Banten sekitarnya.
Sekolah Rakyat bukanlah sekadar program populis, melainkan sebuah megaproyek peradaban. Skala program ini tergambar jelas dari deretan angka yang diungkapkan oleh Sekretaris Kabinet. Pada tahun lalu, Kementerian Sosial (Kemensos) atas arahan Presiden telah berhasil mendirikan 165 Sekolah Rakyat. Momentum ini tidak berhenti. Memasuki tahun ini, pemerintah tengah membangun 100 bangunan baru yang tersebar di 100 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.
Bangunan-bangunan baru ini dirancang dengan standar yang jauh lebih tinggi lebih besar, lebih layak, dan sangat memadai. Di Provinsi Banten sendiri, saat ini telah beroperasi 6 sekolah rintisan dan 2 sekolah baru yang sedang dipersiapkan. Rencananya, antara 50 hingga 100 sekolah baru ini akan mulai diaktifkan secara serentak pada akhir Agustus, tepat setelah perayaan Hari Kemerdekaan ke-17. Namun, keistimewaan Sekolah Rakyat tidak terletak semata pada bangunannya, melainkan pada pendekatan holistik (menyeluruh) yang diterapkan. Pemerintah sadar betul bahwa sekadar memberikan buku dan pena tidak akan menyelesaikan masalah akar rumput.
Mengubah nasib puluhan ribu anak bukanlah pekerjaan membalik telapak tangan. Di lapangan, tim dari Kementerian Sosial berhadapan dengan realita sosial yang kompleks dan menyayat hati.
Saat Teddy berdialog langsung dengan anak-anak dan para orang tua, terpotret jelas lanskap kemiskinan struktural. Banyak orang tua yang tidak memiliki pekerjaan, atau terpaksa bekerja di sektor informal dengan upah yang jauh dari kata layak. Belum lagi realita anak-anak yatim piatu yang harus kehilangan pilar keluarga di usia sangat belia. “ Tantangan terberat aparat di lapangan adalah mengubah mindset (pola pikir). Tidak semuanya mau bersekolah," ungkap Teddy.
Butuh pendekatan persuasif yang luar biasa keras dari jajaran Kemensos untuk mengumpulkan anak-anak ini dan membujuk mereka agar mau meninggalkan jalanan. Beruntung, seiring dengan berdirinya fasilitas yang sangat layak, antusiasme itu mulai tumbuh lebat. Anak-anak yang awalnya menolak, kini berbondong-bondong ingin bergabung karena melihat sendiri kualitas kehidupan yang ditawarkan.
Satu kisah paling menyentuh dari kunjungan tersebut datang dari seorang anak di Sekolah Rakyat DKI Jakarta. Anak yang tadinya hidup dalam kerentanan jalanan ini, dengan bangga memberikan sepucuk surat ucapan terima kasih yang ditujukan kepada Presiden.
Yang membuat rombongan terhenyak, surat tersebut tidak hanya ditulis dengan tata bahasa yang sangat rapi, tetapi juga seluruhnya ditulis dalam Bahasa Inggris. "Tulisannya dia sendiri nih. Saya kira tadi bahasa Indonesia, ternyata sudahlah tulisannya bagus, kemudian ucapinnya pakai bahasa Inggris lagi ke Pak Presiden," kenang Teddy dengan nada takjub.
Sepucuk surat itu adalah bukti tak terbantahkan. Bahwa ketika anak-anak yang terpinggirkan ini diberikan akses, fasilitas, dan kasih sayang yang tepat, mereka mampu membuktikan diri bahwa potensi mereka sama gemilangnya dengan anak-anak lainnya. Sekolah Rakyat telah membuktikan fungsinya, ia bukan sekadar tempat untuk membaca dan berhitung, melainkan pabrik pengolahan harapan. Mengubah mereka yang terabaikan di pinggir jalan, menjadi tunas-tunas peradaban yang siap bersaing untuk Indonesia di masa depan.(**)