Nyaring Teriakan di Antara Bau Amis: Kisah Anto dan Pejuang Rupiah di Jantung Pasar Mardika
Liputan Khusus : Detik Ambon.Com
Deru mesin angkot bersahutan dengan suara tawar-menawar yang riuh. Di sudut Pasar Mardika, Kota Ambon, bau amis air laut bercampur aroma es batu seakan menjadi parfum harian. Di sinilah denyut nadi ekonomi kaum kecil berdetak tanpa henti—sebuah tempat di mana asa dan keringat lebur menjadi satu demi satu kata kunci kehidupan agar dapur tetap mengepul.
DETIKAMBON.COM. Pukul 05.00 WIT, saat sebagian besar warga Kota Ambon masih terlelap dalam selimut hangat mereka, langkah kaki Anto (42) sudah beradu dengan dinginnya angin pagi Teluk Ambon. Di atas pikulan kayu sederhana dan keranjang sarat es batu, tersusun rapi puluhan ekor ikan segar—mulai dari cakalang, lolong, hingga julung-julung—yang siap dijajakan.
Bagi Anto, pasar bukan sekadar tempat mencari uang. Pasar Mardika adalah medan juang. Setiap hari, di tengah himpitan lorong pasar yang padat, sengatan terik matahari, dan riuhnya kerumunan warga, ia menyambung hidup dengan cara yang paling jujur menawarkan ikan kepada siapapun yang lewat.
"Mau ikan apa, kaka? Segar-segar baru turun dari perahu," seru Anto lantang, memecah kebisingan pagi. Suaranya serak, bergesekan dengan debu jalanan dan bau asin air laut, namun sarat akan ketulusan.
Tak ada kata gengsi di kamus hidup Anto. Di usianya yang tak lagi muda, rasa malu telah lama ia tanggalkan jauh-jauh. Baginya, rasa malu yang sesungguhnya bukanlah ketika seseorang harus berteriak menawarkan dagangan di pasar, melainkan ketika ia memilih berdiam diri sementara anak istri di rumah kelaparan menanti uluran tangan. "Kondisi ekonomi sekarang serba susah, apa boleh buat. Yang penting halal, tidak mencuri, dan bisa bawa pulang uang untuk keluarga yang menunggu di rumah," ungkap Anto saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pembeli.
Kisah Anto bukanlah satu-satunya. Ia adalah representasi dari ratusan pedagang eceran di Pasar Mardika. Mereka adalah para "pahlawan tanpa tanda jasa" di sektor informal. Di saat harga kebutuhan pokok kerap naik turun, mereka memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Setiap lembar rupiah yang diterima dari hasil menjual ikan adalah napas panjang bagi kelangsungan dapur rumah tangga mereka untuk membeli beras, membayar biaya sekolah anak, dan memastikan kompor di dapur tetap menyala.
Pemandangan seperti ini sudah menjadi rutinitas harian yang menghiasi sudut-sudut Pasar Mardika. Di balik gemerlap pembangunan kota, ada denyut kehidupan yang gigih dipertahankan oleh tangan-tangan kasar para penjual ikan. Mereka tidak meminta dikasihani, mereka hanya meminta ruang untuk berikhtiar. Ketika hari beranjak sore dan kerumunan di pasar mulai surut, Anto merapikan keranjangnya yang kini sudah kosong.
Sisa-sisa es batu telah mencair, menyatu dengan basahnya lantai pasar. Lelah jelas tergambar di wajahnya, namun ada senyum tipis tersungging di bibirnya. Hari ini, ia kembali menang melawan kesulitan hidup. Hari ini, asap di dapur rumahnya dipastikan akan kembali mengepul.(**)