Tinjau Latihan Tempur Denkav 5/BLC, Pangdam Pattimura Terima Brevet Kehormatan Kavaleri
DETIKAMBON - Piru, SBB – Suara gemuruh mesin menderu memecah keheningan di kawasan Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku. Debu beterbangan ketika kendaraan tempur (ranpur) jenis Tarantula dan Anoa bermanuver taktis. Ini bukan adegan film aksi, melainkan Latihan Menembak Senjata Kendaraan Tempur (Latbakjatranpur) yang digelar oleh Detasemen Kavaleri (Denkav) 5/BLC.
Ada pemandangan yang tak biasa dan menarik perhatian hari itu. Di antara para prajurit baret hitam yang sibuk menyiapkan amunisi, tampak sosok nomor satu di Kodam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han. Sang Jenderal Bintang Dua tidak hanya datang untuk sekadar berdiri dan menonton di tenda komando.
Setelah menerima paparan mekanisme latihan dari tim Asistensi Teknik Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI AD, Pangdam melangkah naik ke atas ranpur. Tanpa ragu, beliau langsung menjajal dan menembakkan sendiri Kanon Kaliber 90 mm dari atas ranpur Tarantula.
Blar! Dentuman keras menggema, membelah udara Piru. Tembakan tersebut tidak hanya menguji presisi senjata, tetapi juga memompa adrenalin dan semangat juang 51 personel Denkav 5/BLC yang tengah berlatih. Momen langka ini menjadi bukti nyata bahwa seorang pimpinan tertinggi di wilayah Maluku masih memiliki naluri tempur yang tajam.
Latihan yang dipimpin oleh Kapten Kav Gihantara selaku Komandan Latihan (Danlat) ini memang didesain secara spartan. Berlangsung selama enam hari penuh, dari tanggal 31 Juli hingga 5 Agustus 2026, latihan ini tidak main-main. Selain meriam 90 mm, prajurit juga memuntahkan amunisi dari Automatic Grenade Launcher (AGL) Kaliber 40 mm, dan Senjata Mesin Sedang (SMS) Kaliber 7,62 mm.
Bagi prajurit Kavaleri, mengendalikan monster besi ini butuh keahlian tingkat tinggi. Setelah unjuk kebolehan menembakkan meriam, suasana latihan yang tegang berubah menjadi momen penuh kebanggaan.
Mewakili Komandan Pussenkav, Kapten Kav Gihantara menyematkan sebuah lencana khusus di dada kiri Mayjen TNI Dody Triwinarto. Lencana itu adalah Brevet Kehormatan "Yudha Bramasta Wiratama". Penyematan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah pengukuhan resmi bahwa Sang Pangdam kini telah menjadi bagian dari darah daging Keluarga Besar Kavaleri TNI AD.
Meski diliputi suasana kebanggaan, Mayjen Dody tetap memberikan instruksi tajam. Ia mengingatkan bahwa latihan ini adalah fondasi pertahanan negara yang tak boleh dianggap sebagai rutinitas administratif semata. "Latihan ini bukan sekadar memenuhi program kerja, melainkan sarana utama untuk meningkatkan kesiapan operasional satuan. Saya berharap seluruh prajurit melaksanakan setiap tahapan latihan dengan sungguh-sungguh, disiplin tinggi, dan yang paling utama: mengutamakan keselamatan (zero accident)," tegas pangdam
Jika di pagi hari kawasan Piru digetarkan oleh dentuman meriam dan letusan senapan mesin, menjelang siang suasananya berubah drastis menjadi hangat dan penuh kekeluargaan. Inilah sisi menarik dari TNI AD yang selalu berusaha dijaga, di satu sisi mereka adalah mesin perang yang mematikan bagi musuh negara, namun di sisi lain mereka adalah pelindung yang berhati lembut bagi rakyat.
Menutup rangkaian kegiatan peninjauan Latbakjatranpur, Pangdam XV/Pattimura tidak langsung bertolak kembali ke Ambon. Beliau meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang tinggal di dekat daerah latihan. Dalam kesempatan tersebut, Mayjen Dody membagikan puluhan paket bantuan sembako kepada warga. Senyum semringah warga Piru menyambut pemberian jenderal bintang dua tersebut, seolah melunturkan ketegangan dari suara dentuman meriam beberapa jam sebelumnya.
Langkah ini bukan sekadar aksi amal biasa. Pembagian sembako ini menjadi wujud kepedulian sosial, sekaligus strategi kultural untuk mempererat kemanunggalan (kesatuan) antara TNI dan rakyat, khususnya di wilayah Seram Bagian Barat. Kehadiran Denkav 5/BLC di sana diharapkan tak hanya memberi rasa aman melalui kekuatan alutsista, tapi juga membawa berkah dan harmoni bagi masyarakat setempat.
Di ujung hari, raungan mesin Anoa dan Tarantula perlahan mereda. Namun, satu pesan kuat tersisa di bumi Saka Mese Nusa: Kodam XV/Pattimura selalu siap sedia dengan persenjataan terbaiknya, tanpa pernah melepaskan rangkulannya pada rakyat.
Catatan Redaksi : DetikAmbon.Com