Ironi di Negeri Raja-Raja: Ratusan Miliar Menguap di Galangan Dok Wayame Ambon
Liputan Khusus: Tim Redaksi DetikAmbon.Com
DETIKAMBON, Angin yang berhembus di Teluk Ambon semestinya membawa kabar tentang kejayaan maritim Nusantara. Sebagai provinsi kepulauan, Maluku selalu menyandarkan napas ekonominya pada sektor kelautan, pelayaran, dan masa depan generasi mudanya. Namun, pada pekan pertama Agustus 2026, publik Maluku disuguhi dua wajah birokrasi yang saling bertolak belakang gurita korupsi miliaran di sektor perkapalan, dan perjuangan menghadirkan gizi bagi anak-anak di pelosok pulau.
Dua peristiwa ini bukan sekadar berita lewat, keduanya adalah cermin peradaban birokrasi kita hari ini. Di satu sisi, ada elite yang menari di atas penderitaan rakyat, dan di sisi lain, ada upaya keras dari pusat untuk memastikan masa depan anak-anak Timur tidak tertinggal.
Semangat menuju visi Maluku Maju dan Maluku Bangkit rasanya mendapat pukulan telak pekan ini. Kejaksaan Negeri Ambon baru saja menyingkap tabir gelap yang selama ini menyelimuti tata kelola keuangan PT. Dok dan Perkapalan Wayame Ambon. Tidak tanggung-tanggung, dugaan korupsi yang dibongkar melibatkan angka fantastis Rp 177 Miliar.
Angka ini bukanlah sekadar deretan nol di atas kertas. Dalam konteks pembangunan daerah, Rp 177 miliar adalah ribuan beasiswa, ratusan puskesmas baru, atau modal pemberdayaan ribuan nelayan lokal. Namun, dana sebesar itu diduga kuat menguap dalam kurun waktu empat tahun terakhir (2020-2024).
Pada Rabu (6/8/2026) kemarin, Kejaksaan resmi menetapkan dua tersangka utama yang memegang peran vital dalam sirkulasi perusahaan daerah tersebut. Mereka adalah W.A.L, yang menduduki kursi Manajer Keuangan dan Akuntansi, serta N.R, yang menjabat sebagai Kepala Urusan Kasir. Keduanya diduga menjadi aktor sentral di balik tata kelola keuangan yang bocor, memanipulasi celah sistem demi keuntungan pribadi di saat perusahaan seharusnya menjadi tulang punggung infrastruktur maritim Maluku.
Kasus ini menjadi pukulan telak bagi publik. PT. Dok dan Perkapalan Wayame sejatinya adalah aset kebanggaan yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mendongkrak pendulum ekonomi daerah. Publik kini menanti dengan penuh harap dan amarah yang tertahan. Akankah penyidikan ini berhenti pada dua nama, ataukah ini baru babak pendahuluan dari opera korupsi yang jauh lebih besar? Ketika ratusan miliar rupiah dihamburkan di meja birokrasi tingkat atas.(**)