Minggu, 19 Juli 2026
Detik Ambon Logo
DETIK AMBON AKTUAL TERPERCAYA DAN TERKINI
TRENDING
Seram bagian Timur

Jauh dari Kelayakan, Dekat dengan Ancaman: Potret Pilu Pendidikan di SDN 6 Tutuk Tolu

d
detik ambon Jurnalis Detik Ambon
Monday, 17 August 2026 | 65 views
Bagikan:
Jauh dari Kelayakan, Dekat dengan Ancaman: Potret Pilu Pendidikan di SDN 6 Tutuk Tolu


CATATAN : Redaksi DetikAmbon.com | 17 Agustus 2026

Di ufuk Seram Bagian Timur, tersembunyi sebuah desa yang menjadi saksi bisu perjuangan anak-anak bangsa merajut asa. Tepatnya di Desa Bati Kilwow, Kecamatan Tutuk Tolu, berdiri sebuah bangunan sederhana yang usianya kian renta: Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Tutuk Tolu.

Sekolah ini bukanlah bangunan megah berlantai keramik atau bertembok beton yang kokoh. Ia hanya terbalut dinding papan kayu yang kini telah reyot. Jauh dari kata layak, bangunan ini justru hidup berdampingan dengan ancaman roboh yang bisa datang kapan saja.

Namun, bagi anak-anak di pedalaman Tutuk Tolu, bangunan rapuh ini adalah satu-satunya oase yang melepaskan dahaga mereka akan ilmu pengetahuan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap melangkah riang, membawa harapan besar di pundak-pundak kecil mereka, didorong oleh ketegaran para orang tua dan dedikasi guru yang tak pernah padam.

Jika ditarik mundur ke belakang, keberadaan SDN 6 Tutuk Tolu memiliki sejarah panjang yang lekat dengan semangat gotong royong masyarakat. Kepala Desa Bati Kilwow, Hamid Rumalean, mengenang kembali masa-masa awal berdirinya tempat bernaung para siswa ini. "Sekolah ini dibangun tahun 2004, melalui program PNPM," ungkap Hamid Rumalean, memberikan catatan historis pada bangunan yang kini mulai termakan usia tersebut.

Selama dua dekade, sekolah ini tidak pernah sepi dari kehidupan. Setiap jam belajar tiba, suasana khas pedesaan berpadu dengan ritme pendidikan. Suara para pahlawan tanpa tanda jasa terdengar nyaring, bersahutan dari satu ruangan ke ruangan lain, berusaha menembus sekat-sekat papan yang menipis.

Di dalam kelas, pemandangan menyentuh hati mudah ditemukan. Para siswa dan siswi duduk rapi, tatapan mereka terpaku pada sang guru, sesekali menunduk untuk menggoreskan tinta di atas lembaran buku yang lusuh. Semangat muda yang membara di setiap sudut ruangan seakan menjadi penawar dari realitas fisik bangunan yang kian memprihatinkan.

Sayangnya, semangat baja para siswa dan guru perlahan mulai terusik oleh rasa waswas yang nyata. Dinding papan kayu yang dulunya menjadi pelindung, kini telah lapuk dan merintih menahan beban bangunan. Puncak kekhawatiran itu terjadi belum lama ini. Di tengah proses kegiatan belajar mengajar yang sedang khusyuk berlangsung, salah satu bagian bangunan sekolah nyaris ambruk ke tanah. Ketegangan langsung menyelimuti seluruh insan pendidikan di SDN 6 Tutuk Tolu.

Beruntung, respons cepat datang dari warga sekitar. Para orang tua siswa yang mendengar kabar tersebut langsung bergegas mendatangi sekolah. Tanpa menunggu bantuan formal, mereka mengambil inisiatif mengidentifikasi bagian bangunan yang kritis dan mencari penyebab kemiringannya.

Dengan alat seadanya, sebuah keputusan darurat diambil: menopang bangunan rapuh tersebut dengan batang-batang kayu. Sejumlah tiang penyangga tradisional dipasang secara strategis untuk menahan dinding agar tidak benar-benar rata dengan tanah. Upaya sederhana dari para orang tua ini menjadi penyelamat sementara, namun sekaligus mengukirkan ironi betapa gentingnya infrastruktur pendidikan di desa tersebut.

Tiang-tiang kayu yang kini berdiri menahan dinding SDN 6 Tutuk Tolu bukanlah solusi permanen. Mereka hanyalah plester penahan luka pada masalah yang jauh lebih besar. Kayu-kayu penopang itu hanya menunda waktu, sementara persoalan keselamatan yang sesungguhnya masih menunggu tindakan nyata.

Bangunan sekolah yang hakikatnya harus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak pedalaman untuk menjemput cita-cita, kini perlahan bermutasi menjadi ancaman tersendiri. Setiap embusan angin kencang atau hujan lebat menjadi teror bagi keselamatan para siswa dan guru. Jika struktur bangunan dibiarkan semakin melemah, tragedi hanyalah soal waktu. Di ruang-ruang kelas yang disokong tiang kayu itu, anak-anak Bati Kilwow masih mengeja huruf, berhitung, merangkai mimpi, dan mencoba mengenali luasnya dunia. Mereka tidak menuntut kemewahan, melainkan sekadar rasa aman saat belajar.

Kini, nasib SDN 6 Tutuk Tolu berada di titik nadir, menanti perhatian serius dari pemerintah. Harapan besar dititipkan agar ada langkah konkret dan perbaikan menyeluruh, sebelum sekolah yang menjadi denyut nadi pendidikan di pedalaman Seram Bagian Timur ini benar-benar tinggal cerita.(**)