Kisah Penjual Bendera, Harapan, dan Semangat Kemerdekaan
DetikAmbon.Com, Angin pesisir Teluk Ambon berembus cukup kencang siang itu, menggerakkan ratusan kain berwarna merah dan putih yang terpasang berjejer di sepanjang trotoar. Di tengah deru mesin angkot dan lalu lalang kendaraan bermotor, pemandangan di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Ambon, mendadak berubah wujud.
Jalanan yang biasanya didominasi warna abu-abu aspal dan debu jalanan itu kini bersolek. Dari underpas hingga Kantor Agama Provinsi Maluku terlihat warna merah putih mendominasi dikawasan itu. Agustus telah tiba, dan bersamaan dengan itu, para "pahlawan musiman" yang membawa semarak kemerdekaan ke jalanan ibu kota kembali hadir. Mereka adalah para penjual bendera dan umbul-umbul.
Pemandangan penjual bendera di pinggir jalan menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI memang bukan hal baru. Ini adalah tradisi tahunan. Namun, bagi warga Ambon, kehadiran mereka di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman adalah penanda tak resmi bahwa bulan perayaan telah dimulai.
Kain-kain panjang berbentuk umbul-umbul gergaji, bendera background bermotif burung Garuda, hingga bendera plastik kecil untuk antena mobil diikat rapi pada tali rafia yang membentang di antara pepohonan dan tiang listrik. Gradasi warna merah yang mencolok di bawah teriknya matahari Kota Ambon seakan menyuntikkan energi baru bagi siapa saja yang melintas.
Salah satu lapak yang paling ramai terlihat berada tak jauh dari pertigaan. Di sana, duduk seorang pria paruh baya bertopi pudar, sibuk mengelap debu dari tiang-tiang bambu dagangannya. Ia adalah Adri (35 tahun ), pria yang sudah lebih dari sepuluh tahun menggantungkan rezeki pada momentum kemerdekaan di jalanan ini.
"Sudah dari akhir Juli kami mulai pasang posisi di sini. Kalau tidak cepat, lapak yang teduh di bawah pohon bisa diambil orang," ujar adri sambil tersenyum ramah, memperlihatkan gurat lelah yang tertutupi oleh semangatnya.
Bagi adri dan puluhan pedagang lainnya, trotoar Jalan Jenderal Sudirman bukan sekadar tempat berjualan. Ini adalah etalase nasionalisme, tempat di mana warga Kota Manise dari berbagai latar belakang singgah sejenak untuk membeli simbol negara kebanggaan mereka.
Menjual bendera di pinggir jalan raya yang padat bukanlah pekerjaan mudah. Cuaca Kota Ambon yang belakangan ini sering berubah kadang terik menyengat di siang hari, lalu mendadak hujan deras di sore hari—menjadi tantangan tersendiri."kalau hujan turun tiba-tiba, kita harus cepat-cepat gulung bendera yang bahannya satin atau beludru. Kalau basah dan kena debu jalan, warnanya jadi kusam, pembeli tidak mau lirik," cerita adri.
Barang dagangan yang dijajakan di sini sangat bervariasi. Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong, mulai dari Rp 5.000 untuk bendera kecil hiasan motor, Rp 35.000 untuk bendera ukuran standar rumah tangga, hingga Rp 300.000 untuk background rumbai sepanjang 10 meter yang biasanya dibeli oleh panitia lomba desa atau instansi perkantoran. Menariknya, banyak dari dagangan ini didatangkan langsung dari luar daerah, seperti Garut dan Cirebon bandung, melalui jalur laut berhari-hari. Namun, ada pula penjahit lokal Ambon yang ikut menitipkan karyanya.
Menurut cerita para pedagang, pembeli biasanya baru akan membeludak pada minggu kedua bulan Agustus. Di minggu-minggu awal, mayoritas pembeli adalah pegawai instansi pemerintah daerah atau pihak sekolah yang mencari umbul-umbul untuk menghias gedung. Menjelang tanggal 15 Agustus, barulah warga perorangan ramai menepi dari motor atau mobil mereka, menawar harga untuk selembar bendera yang akan dikibarkan di depan pagar rumah. "Kadang ada yang tawar sampai setengah harga. Ya namanya juga orang jualan di jalan. Tapi kadang ada juga yang bayar lebih, katanya 'ambil saja kembaliannya hitung-hitung sedekah merdeka, Bang'. Itu yang bikin kami betah jualan," tambahnya
Di balik kerasnya upaya mencari cuan di pinggir jalan, ada sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi para penjual ini. Mereka adalah agen-agen kecil yang memastikan merah putih tetap berkibar di pelosok Kota Ambon.
Seorang pembeli, Ibu Maria (52), tampak sedang memilih bendera berukuran sedang. Saat ditanya, ia mengaku sengaja mampir sepulang dari Pasar Mardika karena bendera miliknya di rumah sudah mulai pudar warnanya. "Setiap tahun pasti beli, minimal umbul-umbul satu. Biar di rumah terasa suasana 17-an. Kalau jalanan sudah penuh penjual begini, rasanya Ambon jadi lebih hidup dan meriah. Bangga rasanya lihat sepanjang Sudirman ini merah putih semua," kata Ibu Maria sembari membayar benderanya.
Bagi adri dan pedagang lainnya, kemerdekaan bangsa ini direbut dengan darah dan air mata oleh para pahlawan di masa lalu. Kini, di masa damai, tugas mereka adalah merawat ingatan itu. Meski hanya lewat selembar kain yang dijajakan di pinggir jalan berdebu, keringat mereka telah memastikan bahwa semangat 17 Agustus tak pernah pudar di bumi Maluku. Jadi, jika Anda melintas di Jalan Jenderal Sudirman hari ini, jangan lupa pelankan kendaraan Anda. Singgahlah sejenak, beli selembar bendera, dan bawalah pulang secercah semangat kemerdekaan ke rumah Anda.
(Redaksi/Detik Ambon)