Menembus Pagi Dalam Tumpukan Barang Bekas
Liputan Khusus| Akhir Pekan
DETIKAMBON.COM.Langit Ambon belum sepenuhnya melepaskan pekat malam, angin laut masih berembus dingin menusuk tulang, namun kawasan Pasar Pantai Mardeka sudah mulai berdenyut. Pukul 03.00 WIT, saat sebagian besar warga masih terlelap dalam selimut hangat, puluhan pasang kaki telah melangkah pasti menembus gelap.
Mereka adalah para pedagang pakaian bekas—atau yang lebih akrab disebut warga lokal sebagai cakar bongkar atau RB (rombengan). Tanpa menunggu matahari menampakkan sinarnya, mereka bahu-membahu menurunkan karung-karung besar berisi pakaian impor. Dengan cekatan, besi-besi penyangga dirakit, terpal digelar, dan satu per satu pakaian digantung rapi di sepanjang pinggir jalan.
Bagi mereka, subuh bukan penanda untuk beristirahat, melainkan garis start sebuah perlombaan melawan kerasnya hidup. Di atas hamparan bahan bekas inilah, asa dan mimpi-mimpi kecil keluarga mereka digantungkan. "Kami harus datang cepat sebelum petugas datang atau sebelum jalanan ramai. Setiap helai pakaian yang kami gantung adalah doa agar hari ini ada pembeli yang datang," ungkap salah seorang pedagang paruh baya
Para pedagang menyadari sepenuhnya bahwa berjualan di badan jalan atau trotoar Pasar Pantai Mardeka melanggar ketertiban umum. Tak jarang, bayangan razia dari Satpol PP Kota Ambon menjadi teror tersendiri yang datang tiba-tiba. Suasana yang tadinya sibuk tawar-menawar bisa seketika berubah menjadi kepanikan saat teriakan "Satpol PP datang!" bergemuruh di antara lapak.
Karung-karung harus segera diikat kembali, gantungan ditarik terburu-buru, dan barang dagangan diamankan seadanya. Kucing-kucingan dengan aparat penegak perda ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
Namun, di balik penertiban yang kerap dilakukan demi keindahan dan kelancaran lalu lintas kota, tersimpan alasan yang jauh lebih mendesak bagi para pedagang, perut keluarga yang harus tetap terisi. Ekonomi yang Semakin Menjepit. Biaya hidup di Ambon yang terus merangkak naik membuat sektor formal terasa tertutup bagi mereka yang berpendidikan terbatas. Berjualan pakaian bekas menjadi satu-satunya pelampung penyelamat ekonomi keluarga kecil mereka
Meski kerap diusir dan barang dagangannya berhamburan, tekad untuk mengais rupiah secara halal jauh lebih besar daripada rasa takut.
Ketika matahari mulai meninggi dan bising kendaraan mulai memadati kawasan pasar mardika, lapak-lapak sederhana itu berubah menjadi pemandangan yang kontras namun hidup. Ibu-ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pekerja kantoran tampak antusias memilih pakaian di antara tumpukan kain. Sensasi mencari barang branded dengan harga miring selalu memiliki daya tarik tersendiri.
Di balik hiruk-pikuk tawar-menawar harga sepuluh atau dua puluh ribu rupiah, tersimpan cerita kemanusiaan yang mendalam. Para pedagang di Pantai Mardika bukan sekadar mencari keuntungan pribadi, mereka adalah tulang punggung keluarga yang berjuang membiayai sekolah anak-anak dan dapur yang harus tetap ngebul.
Kehidupan memang semakin susah, dan trotoar dikawasan pasar mardika Kota Ambon adalah saksi bisu betapa gigihnya warga bertahan hidup di tengah keterbatasan. Mereka tidak meminta belas kasihan, mereka hanya meminta ruang kecil untuk mencari nafkah dengan keringat sendiri.
Menaruh asa di atas bahan bekas adalah sebuah potret nyata bahwa harapan manusia seringkali ditemukan di tempat yang paling tak terduga, dijahit oleh keteguhan hati yang tak mudah robek oleh keadaan.(**)