Menyelamatkan Kepesertaan di Tengah Ketidakpastian Pendapatan
DETIKAMBON.COM – Pernahkah Anda merasakan dilema di akhir bulan? Niat hati ingin tertib membayar iuran jaminan kesehatan untuk melindungi diri dan keluarga, tapi apa daya, sisa saldo di dompet sering kali tak sejalan dengan harapan saat tanggal jatuh tempo tiba. Masalah klasik ini bukanlah hal asing, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja lepas, pedagang pasar, pengemudi ojek online, hingga nelayan yang pendapatannya fluktuatif mengikuti musim.
Mereka yang masuk dalam segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) ini sering kali harus memutar otak dua kali lipat untuk sekadar menyisihkan uang dalam jumlah penuh pada satu waktu.Keresahan yang merayap di masyarakat akar rumput ini rupanya ditangkap jelas oleh radar BPJS Kesehatan. Menjawab tantangan tersebut, sebuah inovasi revolusioner bertajuk Program NADI JKN (Menabung Demi Iuran JKN) resmi diluncurkan di Jakarta, pada Selasa (4/8)
Konsep NADI JKN sesungguhnya sangat membumi, menabung sedikit demi sedikit. Lewat program ini, masyarakat tidak perlu lagi pusing menyiapkan dana utuh secara mendadak. Iuran bisa dicicil lewat skema menabung yang ringan, terencana, dan tentunya ramah bagi kantong pekerja informal. Fakta di lapangan sebenarnya menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya jaminan kesehatan. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan sebuah paradoks yang tengah dihadapi lembaganya. Hingga pertengahan 2026, antusiasme warga untuk mendaftar terbilang luar biasa. Sebanyak 98,60% dari total penduduk Indonesia telah terdaftar dalam program JKN. Angka yang fantastis, bukan? Namun, di balik angka tersebut, terselip satu pekerjaan rumah yang cukup berat, tingkat keaktifan peserta baru menyentuh angka 80,25%. Artinya, ada belasan persen peserta yang statusnya "tidur" atau non-aktif. "masih terdapat peserta yang belum aktif karena berbagai faktor, utamanya keterlambatan atau ketidakmampuan membayar iuran secara tepat waktu," ungkap pria yang akrab disapa Pujo ini dengan nada prihatin.
Kehadiran NADI JKN, menurut Pujo, dirancang ibarat "pelampung" penyelamat. Program ini diharapkan mampu menarik kembali para peserta yang sempat tenggelam dalam tunggakan, sekaligus menjaga status kepesertaan mereka agar tak putus di tengah jalan. Guna memastikan "pelampung" penyelamat ini bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, BPJS Kesehatan tak mau setengah hati. Program NADI JKN didesain sedemokratis mungkin dengan menawarkan dua jalur menabung yang fleksibel, menyesuaikan dengan gaya hidup dan kebiasaan transaksi pesertanya.
Jalur Digital adalah jawaban bagi kaum urban, pekerja platform, dan masyarakat yang tak bisa lepas dari smartphone. Menggandeng raksasa teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, BPJS Kesehatan memelopori skema pemotongan otomatis yang inovatif. Para driver ojek online, misalnya, kini bisa menabung harian atau mingguan secara otomatis melalui sistem daily deduct engine langsung dari aplikasi mereka. Ibarat menyisihkan uang receh sehabis menarik penumpang, dana tersebut akan terkumpul. Jika nominalnya sudah mencukupi, sistem akan secara cerdas membayarkannya langsung ke virtual account BPJS Kesehatan. Tanpa ribet, tanpa antre.
Dyan Shinto Eko Nugroho, Chief of Public Affair PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, menyambut program ini dengan antusiasme tinggi. Ia memahami betul bahwa mitra pengemudi adalah pejuang garis depan bagi keluarganya. "Mobilitas para mitra sangat tinggi, mereka bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga. Saat ini sudah ada 3.147 mitra Gojek yang bergabung, memastikan keluarga mereka terlindungi dari risiko biaya kesehatan tak terduga," jelas Dyan.
Lalu, bagaimana dengan masyarakat di pedesaan atau mereka yang lebih nyaman bertransaksi dengan tatap muka? BPJS Kesehatan telah menyiapkan skema konvensional. Warga bisa menabung iuran JKN melalui fasilitas lokal yang sudah akrab dengan keseharian mereka, seperti Koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), atau lembaga masyarakat setempat.
Sebagai langkah awal, skema ini tengah diuji coba secara masif di 5 wilayah strategis, yakni Jakarta Selatan, Pangkalpinang, Boyolali, Banyuwangi, dan Pare-Pare. Tentu saja, publik Maluku menaruh asa agar program cemerlang ini bisa segera menyapa BUMDes dan koperasi di berbagai negeri di Ambon dan sekitarnya.
Gebrakan NADI JKN tak pelak memantik gelombang dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah pusat melihat inovasi ini lebih dari sekadar urusan bayar-membayar iuran, melainkan sebuah instrumen penting untuk memutar roda kesejahteraan di pelosok negeri. Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDTT) Republik Indonesia, Ahmad Riza Patria, secara khusus menyoroti potensi besar dari pelibatan lembaga ekonomi desa dalam program ini.
Menurutnya, NADI JKN bisa menjadi motor penggerak jaminan kesehatan yang digerakkan oleh denyut nadi desa itu sendiri. "Inovasi ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Saya berharap BUMDes dan Koperasi Desa bisa mengambil peran menjadi mitra strategis BPJS Kesehatan," tutur Riza dengan optimis.
Saat ini, harapan itu mulai mewujud nyata dengan bergabungnya sejumlah BUMDes seperti di Boyolali dan Pangkal Pinang, serta keterlibatan PT Pos di Banyuwangi. Dukungan juga mengalir dari ranah pop culture. Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, turut turun gunung menggaungkan NADI JKN. Sosok figur publik yang juga didapuk sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan ini melontarkan ajakan keras kepada anak muda, pekerja kreatif, dan pelaku UMKM untuk mulai melek asuransi kesehatan.
Bagi Raffi, kesehatan adalah investasi yang tak bisa ditawar, dan NADI JKN adalah lifehack (solusi cerdas) untuk melindunginya. “Ini bentuk keseriusan BPJS Kesehatan. Dengan cara menabung seperti ini, masyarakat bisa mempertahankan status aktif JKN tanpa merasa terbebani karena harus bayar sekaligus,” seru Raffi.
Ke depannya, BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan kemitraan NADI JKN, baik secara digital maupun konvensional. Harapannya jelas tidak ada lagi keluarga Indonesia dari hiruk-pikuk ibu kota hingga pesisir yang harus menunda akses kesehatan hanya karena kesulitan membayar iuran secara tunai di muka. Lewat NADI JKN, kesehatan yang berkesinambungan kini benar-benar ada dalam genggaman, dicicil perlahan, demi masa depan yang lebih aman.(**)