Minggu, 19 Juli 2026
Detik Ambon Logo
DETIK AMBON AKTUAL TERPERCAYA DAN TERKINI
TRENDING
Maluku Tengah

Merdeka yang Tertunda di Balik Kabut: Jerit Sunyi Lima Negeri di Pegunungan Seram Utara

d
detik ambon Jurnalis Detik Ambon
Thursday, 13 August 2026 | 56 views
Bagikan:
Merdeka yang Tertunda di Balik Kabut: Jerit Sunyi Lima Negeri di Pegunungan Seram Utara

LIPUTAN KHUSUS : IRONI KEMERDEKAAN DI ATAS AWAN

DETIKAMBON.COM MALUKU TENGAH – Gugusan Pegunungan Seram Utara selalu menyajikan panorama alam yang memukau. Di balik selimut kabut dan rindangnya pepohonan, tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, di balik keindahan yang memanjakan mata itu, terselip sebuah realitas pahit tentang keterasingan.

Di sanalah terletak lima negeri (desa adat) yang hingga kini masih harus berjuang melawan kerasnya alam raya,  Negeri Kaloa, Elemata, Hatuolo, Maraina, dan Manusela. Bagi masyarakat yang bermukim di kelima negeri ini, kata "merdeka" barangkali baru sebatas ejaan di atas kertas. Di usia republik yang terus bertambah, kemerdekaan yang seutuhnya dalam bentuk pemerataan Pembangunan belum benar-benar mereka rasakan.

Nadi perekonomian dan mobilitas warga seakan tersumbat. Akses jalan yang menjadi urat nadi penghubung dari dan menuju pusat kecamatan hingga kabupaten masih teramat jauh dari kata layak. Keterasingan ini bukan pilihan, melainkan kenyataan pahit yang harus mereka telan setiap hari.

Bagi warga pegunungan Seram Utara, melakukan rutinitas harian bukanlah perkara sederhana. Pergi berkebun atau membawa hasil bumi untuk dijual ke pasar adalah sebuah perjuangan yang menguras keringat dan air mata. Mereka dipaksa melintasi medan berat dan berbahaya hanya untuk menyambung hidup.

Harapan sempat membuncah ketika sebuah proyek jembatan mulai dibangun untuk membuka isolasi desa. Sayangnya, asa itu layu sebelum berkembang. Pembangunan jembatan yang dikerjakan oleh pihak kontraktor diduga dilakukan secara asal-asalan dan kini ditinggalkan dalam kondisi tidak tuntas.

Jembatan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari keterisolasian, kini hanya berdiri sebagai monumen janji yang terbengkalai. Menolak menyerah pada keadaan, warga kelima negeri ini akhirnya bergotong royong. Dengan peralatan dan tenaga seadanya, mereka terpaksa membuka akses jalan darurat secara mandiri agar roda kehidupan berkebun dan berdagang hasil bumi tidak sepenuhnya lumpuh.

Kondisi memprihatinkan ini bukanlah tanpa upaya penyelesaian dari warga. Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) atau Raja Negeri Kaloa, Joseph Tamal, menjadi salah satu tokoh yang terus menyuarakan jerit hati masyarakat pegunungan tersebut.

Menurut Joseph, masyarakat dan perangkat negeri bukannya diam menunggu nasib. Segala prosedur administratif dan birokrasi telah ditempuh. Usulan pembangunan infrastruktur jalan dan penyelesaian jembatan selalu menjadi agenda prioritas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). "Usulan sudah kami sampaikan berulang kali, mulai dari Musrenbang tingkat desa, naik ke kecamatan, hingga ke tingkat kabupaten," ungkap Joseph. 

deretan proposal dan dokumen usulan itu seolah hanya mengendap di laci birokrasi. Hingga detik ini, realisasi dari pembangunan yang dijanjikan tersebut masih nihil. Suara warga pegunungan seolah memudar sebelum sampai ke telinga para pengambil kebijakan.


 Ketertinggalan yang dialami oleh Negeri Kaloa, Elemata, Hatuolo, Maraina, dan Manusela adalah pengingat bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh akar rumput, terutama di daerah terpencil dan pegunungan. Ketiadaan jalan yang memadai tidak hanya menghambat perputaran ekonomi, tetapi juga membatasi akses warga terhadap hak-hak dasar lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan.

Mewakili suara warganya, Joseph Tamal menaruh harapan besar kepada para pemangku kebijakan. Ia mendesak adanya intervensi dan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Kelima negeri di pegunungan Seram Utara ini tidak meminta kemewahan, mereka hanya menuntut hak dasar sebagai warga negara dan membuka   akses jalan yang layak. Sudah saatnya pemerintah hadir, menuntaskan proyek yang terbengkalai, dan membuktikan bahwa kemerdekaan dan keadilan sosial juga berhak dinikmati oleh mereka yang hidup di balik rimbunnya pegunungan Seram.

 

Penulis : Faisal Boinauw-  DetikAmbon.Com