Minggu, 19 Juli 2026
Detik Ambon Logo
DETIK AMBON AKTUAL TERPERCAYA DAN TERKINI
TRENDING
Nasional

Di Balik Loreng di Bumi Saruma: Sebuah Pesan Ketulusan dari Sang Jenderal untuk Ujung Tombak Negeri

d
detik ambon Jurnalis Detik Ambon
Sunday, 2 August 2026 | 56 views
Bagikan:
Di Balik Loreng di Bumi Saruma: Sebuah Pesan Ketulusan dari Sang Jenderal untuk Ujung Tombak Negeri


DETIKAMBON.COM. Seragam loreng sering kali identik dengan ketegasan, barisan yang kaku, dan wajah-wajah tanpa kompromi. Terbayang di benak kita, kehidupan militer adalah kehidupan yang kering dari kelembutan, di mana perintah adalah mutlak dan senjata adalah bahasa utama. Namun, kunjungan Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, ke Bumi Saruma akhir pekan lalu, mengupas sisi lain dari dunia militer yang jarang kita lihat sebuah sisi yang menyentuh relung kemanusiaan kita.


Bumi Saruma, Halmahera Selatan, mungkin jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Di sana, para prajurit Yonif TP 867/Satria Manggasa dan Kodim 1509/Labuha berjaga menembus sepi, panas, dan rindu kepada keluarga. Bagi seorang prajurit di ujung pulau, kunjungan seorang Panglima bisa jadi momen yang menegangkan. Namun, alih-alih datang dengan hardikan atau inspeksi yang menggentarkan, Mayjen Dody datang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, pelukan batin seorang bapak kepada anak-anaknya.

Ada satu momen yang membuat hati siapa pun yang mendengarnya akan terenyuh. Saat  "Jam Komandan", di hadapan ratusan prajurit yang berdiri tegap, sang Jenderal tidak hanya bicara soal taktik atau pertahanan fisik. Ia menembus batas-batas pangkat dan berbicara tentang nurani.

Ia meminta pasukannya untuk tidak pernah lupa bersyukur. Ia berpesan agar mereka mencintai rakyat dengan tulus, bukan karena kewajiban undang-undang, melainkan karena panggilan jiwa. Dan yang paling menyentuh, ia mengingatkan para prajuritnya yang garang itu untuk terus menjalin keharmonisan antar sesama. 

Betapa indahnya menyadari bahwa di balik senjata yang mereka sandang, ada doa seorang ayah, suami, atau anak laki-laki yang merindukan pelukan keluarganya. Pesan sang Jenderal seolah mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati seorang prajurit tidak hanya terletak pada pelatuk senjatanya, melainkan pada doa istri, anak, dan ibu yang menantinya pulang dengan selamat. Pangdam meminta para prajurit senangtiasa  menerapkan Nilai "PRIMA" (Profesional, Responsif, Inovatif, Modern, Adaptif) yang digaungkan sang Jenderal  sebagai slogan penyemangat.

 Ketulusan sang jenderal dibuktikan saat langkah kaki sang Pangdam berlanjut menuju Desa Kampung Makian. Melihat langsung pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, kita seolah disadarkan  TNI hadir bukan untuk ditakuti, melainkan untuk merangkul dan mengangkat derajat hidup rakyat kecil. Mereka hadir agar dapur warga desa tetap mengepul dan roda ekonomi terus berputar.

Kunjungan di Bumi Saruma ini meninggalkan jejak emosional yang dalam. Ia mengajarkan kepada kita semua baik militer maupun warga sipil bahwa pangkat setinggi apa pun tak ada artinya tanpa kerendahan hati. 

Di akhir hari, ketika sepatu laras dilepas dan seragam digantungkan, setiap prajurit adalah manusia biasa yang butuh Tuhan, butuh keluarga, dan butuh senyum dari rakyat yang dilindunginya.
Terima kasih, para ksatria di Bumi Saruma. Teruslah menjaga negeri ini, dengan senjata di tangan, dan cinta yang tak pernah padam di dalam dada." Tutup pangdam

Catatan : REDAKSI DETIK COM