Gempa NTT Hari Ketiga: Basarnas Catat 70 Warga Meninggal Dunia, Ratusan Luka-luka
DetikAmbon | Rabu , 19 Agustus 2026
Jakarta DetikAmbon - Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur (NTT). Memasuki hari ketiga operasi pencarian dan pertolongan pascagempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) merilis data terbaru mengenai jumlah korban.
Hingga saat ini, total korban yang berhasil dicatat oleh tim di lapangan mencapai 202 orang. Sangat disayangkan, 70 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. "Dari total 202 korban, 70 orang meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka," ujar Direktur Operasi Basarnas, Bramantyo, dalam konferensi pers daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Rincian dari 132 korban luka tersebut, sebanyak 40 orang mengalami luka berat dan harus mendapatkan penanganan medis intensif, sementara 92 orang lainnya mengalami luka ringan.
Memasuki hari lima operasi pada rabu (19/8), Basarnas menyampaikan perkembangan signifikan terkait pencarian warga yang hilang. Berdasarkan masukan dari keluarga korban maupun masyarakat di lokasi bencana, saat ini sudah tidak ada lagi laporan mengenai warga yang dinyatakan hilang. "Berdasarkan laporan dan data dari para korban, tidak ada lagi saudara, tetangga, maupun rekan mereka yang tercatat masih dalam pencarian," jelas Bramantyo.
Oleh karena itu, lanjut Bramantyo, Basarnas memutuskan untuk mengubah fokus operasi di lapangan. Tim SAR tidak lagi memprioritaskan pencarian titik korban hilang, melainkan beralih sepenuhnya pada fase pemulihan dan penanganan kesehatan. "Tim SAR yang ada di lapangan kami fokuskan untuk membantu penyisiran dan membantu proses pencarian serta pemulihan yang dilaksanakan oleh BNPB," imbuhnya.
Selain melakukan penyisiran sisa-sisa reruntuhan, Basarnas kini memperkuat dukungan penanganan kesehatan, terutama di wilayah yang terdampak parah dan sulit dijangkau melalui jalur darat. Langkah cerdas ini diambil menyusul arahan Kementerian Kesehatan dan masukan dari masyarakat setempat.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Kecamatan Lamba Leda di Kabupaten Manggarai. Untuk menembus wilayah ini, Basarnas mengerahkan alat utama (alut) terbaiknya. Dari jalur laut, Kapal KN SAR Antareja 233 dari Kantor SAR Kupang dikerahkan untuk membantu pergeseran 40 tenaga medis dari Kodam IX/Udayana beserta relawan menuju Manggarai.
Tak hanya laut, jalur udara juga dimaksimalkan. Pada Selasa pagi, helikopter Basarnas diterbangkan untuk mengirim lima personel tim kesehatan ke Lamba Leda. Misi tersebut sekaligus melakukan evakuasi medis (medivac). Dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, tim mengevakuasi empat warga untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Gerak cepat tim SAR berlanjut pada sorti kedua sekitar pukul 11.00. Helikopter Basarnas kembali menggeser dua tenaga kesehatan ke Lamba Leda. Dalam penerbangan kembali, empat warga lainnya berhasil dievakuasi untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuan Bajo.
Bramantyo menegaskan, operasi SAR ke depan akan tetap konsisten pada pola penyisiran dan penguatan dukungan kesehatan, khususnya di lokasi-lokasi yang terisolir. "Kami berharap agar korban tidak bertambah dan apa yang dialami saudara-saudara kita di tempat bencana ini cepat teratasi dan kembali pulih seperti sediakala," pungkasnya.
(detikAmbon/red)