Pantun Penyejuk di Sidang Tahunan 2026, Ketua MPR Ahmad Muzani: Mari Bersatu Jangan Saling Menghujat!
Oleh: Redaksi DetikAmbon.com | Jumat, 14 Agustus 2026
JAKARTA, DetikAmbon.com – Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama MPR, DPR, dan DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026) diwarnai momen menarik. Di tengah pidato kenegaraan yang sarat dengan data, evaluasi, dan proyeksi politik kebangsaan, Ketua MPR RI Ahmad Muzani memilih menutup pidatonya dengan pendekatan kultural yang menyentuh: sebuah pantun sarat makna. Pesan yang disampaikan tidak muluk-muluk, namun sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat Indonesia hari ini.
Sidang Tahunan selalu menjadi barometer arah politik dan kebangsaan ke depan. Para elit politik berkumpul, dan rakyat memantau dari layar kaca. Namun, ketegangan dan nuansa formal sidang seketika mencair di penghujung acara ketika Ahmad Muzani mengambil jeda, menatap audiens, dan melontarkan sebait pantun.
Ketua MPR tersebut tidak sedang melucu. Pantun itu ditujukan khusus sebagai pesan moral kepada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. "Buah nangka, buah alpukat. Manis rasanya bikin terpikat. Ini pesan untuk seluruh rakyat, Mari bersatu jangan saling menghujat."
Kalimat sederhana tersebut langsung menuai senyum dan apresiasi. Melalui bait tradisional ini, Muzani secara tersirat mengajak seluruh elemen bangsa untuk menurunkan tensi, menjaga persatuan, dan menghentikan budaya caci-maki yang kerap meracuni ruang publik belakangan ini.
Bagi masyarakat luas, pesan dari Senayan ini bak oase. Di tengah hiruk-pikuk berbagai isu nasional, ajakan untuk kembali merajut kebersamaan adalah fondasi yang sering kali dilupakan namun paling dibutuhkan.
Mengapa pantun Ahmad Muzani menjadi sangat krusial jika dibedah dari kacamata isu terkini? Jawabannya ada pada layar gawai kita masing-masing. Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan serius di ranah digital. Ruang maya kita kerap diwarnai oleh fenomena cancel culture, polarisasi akibat perbedaan pandangan politik, hingga mudahnya melontarkan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial.
Jari-jari netizen sering kali lebih cepat mengetik hujatan daripada mencari kebenaran. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi kekayaan demokrasi, justru sering berujung pada permusuhan antar-kelompok. Sindiran tajam, hoaks, dan saling serang di platform digital telah menciptakan sekat-sekat imajiner di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, pantun "mari bersatu jangan saling menghujat" bukan sekadar rima penutup pidato, melainkan teguran halus bagi realitas sosial kita.
Khusus bagi masyarakat Maluku, pesan persatuan ini sangat beresonansi dengan filosofi lokal yang telah mengakar kuat. Budaya Pela Gandong mengajarkan kita bahwa meski berbeda keyakinan, pandangan, atau latar belakang, kita tetaplah bersaudara yang diikat oleh rasa saling menghormati. Pesan Ketua MPR sejalan dengan semangat orang basudara di Ambon
Tantangan bangsa di tahun 2026 dan masa mendatang tidaklah ringan. Mulai dari transisi ekonomi global, ketahanan pangan, hingga upaya pemerataan pembangunan yang membutuhkan sinergi mutlak dari pemerintah dan rakyat. Tidak ada negara yang bisa melesat maju jika masyarakatnya sibuk bertikai dan saling menjatuhkan di dalam negeri.
Pernyataan Muzani di forum tertinggi kenegaraan ini menggarisbawahi bahwa stabilitas sosial adalah syarat mutlak bagi pertumbuhan negara. Menghujat tidak akan menyelesaikan masalah inflasi, tidak akan memperbaiki infrastruktur, dan tidak akan menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, persatuan dan kritik yang konstruktiflah yang akan mendorong roda pemerintahan berjalan ke arah yang benar.
Sidang Tahunan MPR 2026 ini akan dikenang bukan hanya karena laporan-laporan kinerja kenegaraan, tetapi juga karena sebaris pantun tentang buah nangka dan alpukat yang membawa pesan fundamental.
Kini, bola berada di tangan rakyat. Apakah kita akan membiarkan pantun tersebut sekadar menggema di dinding-dinding Kompleks Parlemen, atau kita akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Mari kita mulai dari hal kecil: saring sebelum sharing, dan ganti hujatan dengan rangkulan. Karena pada akhirnya, semanis apapun nangka dan alpukat, jauh lebih manis melihat Indonesia hidup dalam persaudaraan yang rukun. (**)