Minggu, 19 Juli 2026
Detik Ambon Logo
DETIK AMBON AKTUAL TERPERCAYA DAN TERKINI
TRENDING
Nasional

Pesan Damai Wali Kota Ambon Sikapi Insiden Menteng

d
detik ambon Jurnalis Detik Ambon
Monday, 3 August 2026 | 55 views
Bagikan:
Pesan Damai Wali Kota Ambon Sikapi Insiden Menteng


Oleh: Tim Redaksi | Selasa, 4 Agustus 2026

DETIKAMBON.COM – Suasana penuh semangat kebersamaan mewarnai Pawai Kebangsaan yang digelar di area ikonik Gong Perdamaian, Kota Ambon, Maluku. Ditengah perayaan keberagaman tersebut, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menyempatkan diri untuk angkat bicara mengenai dinamika sosial yang tengah menghangat di ibukota negara.

Orang nomor satu di Kota Ambon itu menanggapi situasi pasca-bentrokan yang terjadi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026) lalu. Alih-alih merespons dengan tidak emosi, Bodewin memilih pendekatan yang menyejukkan hati. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat peristiwa memilukan tersebut dari kacamata kebijaksanaan.

Menurutnya, setiap gesekan sosial yang terjadi harus dijadikan sebagai cermin besar untuk melakukan introspeksi bersama, bukan justru dijadikan bahan bakar untuk menyulut kebencian dan dendam yang baru. "Kita tidak pernah menginginkan suatu kejadian itu terjadi. Karena itu saya mengajak semua pihak untuk menahan diri dan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bagi kita semua untuk berintrospeksi," ujar Bodewin dengan nada tenang kepada awak media 

Pernyataan ini seolah menjadi pengingat dari Indonesia Timur bahwa penyelesaian konflik tidak akan pernah bermula dari amarah, melainkan dari kedewasaan untuk saling merangkul dan mengevaluasi diri. Benturan fisik di lapangan seringkali mereda dalam hitungan jam, namun 'bentrokan' di dunia maya bisa berlarut-larut tanpa ujung. Menyadari bahaya laten ini, Wali Kota Ambon memberikan penekanan khusus pada bagaimana masyarakat menyerap informasi pasca-kejadian di Menteng. 

Bodewin secara tegas mengimbau masyarakat luas, baik warga Ambon maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, untuk tetap tenang dan menjaga kejernihan pikiran. Ia mewanti-wanti publik agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu liar yang berseliweran, terutama di media sosial, yang sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk memecah belah persatuan bangsa.

Dalam era digital saat ini, sebuah insiden lokal bisa dengan cepat dipelintir menjadi narasi bermuatan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Oleh karena itu, imbauan Wali Kota ini menjadi sangat krusial. Menahan diri bukan berarti diam atau tidak peduli, melainkan sebuah tindakan aktif untuk menyaring informasi, tidak ikut menyebarkan hoaks, dan memutus rantai provokasi yang berpotensi merugikan kerukunan antarwarga.

Kedewasaan masyarakat dalam merespons provokasi akan menjadi kunci utama agar insiden serupa tidak merembet menjadi konflik komunal yang lebih luas. Masyarakat diimbau untuk memercayakan penanganan kasus sepenuhnya kepada pihak berwajib yang memiliki kewenangan hukum.

Di balik pesan damainya, Wali Kota Bodewin Wattimena menyisipkan ketegasan yang tak bisa ditawar, terutama ketika menyangkut harkat dan martabat warganya. Di sisi lain dari wawancaranya, raut wajahnya mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam terhadap perilaku sebagian pengguna internet atau netizen. Bodewin secara terbuka mengecam keras tindakan oknum netizen yang memanfaatkan momentum bentrokan di Menteng untuk melontarkan komentar-komentar berbau rasisme yang ditujukan kepada warga Ambon dan masyarakat dari wilayah Timur Indonesia. “ Tindakan menghakimi dan memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan suku, ras, budaya, warna kulit, maupun latar belakang adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai Pancasila” uangkapnya.

Bagi Bodewin, rasisme adalah musuh bersama yang lebih berbahaya dari bentrokan fisik itu sendiri karena merusak tenun kebangsaan dari dalam. Tidak ada satu suku pun yang lebih superior dibandingkan suku lainnya di negeri ini. Setiap tindakan kriminal atau pelanggaran hukum adalah murni kesalahan individu atau oknum, dan sama sekali tidak merepresentasikan identitas sebuah ras atau daerah tertentu.

Pesan penutup dari sang Wali Kota di bawah bayang-bayang Gong Perdamaian menjadi kesimpulan yang kuat: Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika). Menghina satu suku, berarti mencederai seluruh bangsa. Kini, saatnya masyarakat membuktikan kedewasaannya dengan menolak rasisme dan kembali merajut tali persaudaraan sesama anak bangsa.

 

Catatan:  Redaksi DetikAmbon.Com